HUKUM BARANG TEMUAN DALAM ISLAM
Hukum Barang Temuan atau Al-Luqathah adalah semua barang yang terjaga, yang tersia-sia, dan tidak diketahui pemiliknya. umumnya berlaku untuk barang yang bukan hewan. Adapun hewan disebut ad-dhallah ( tersesat ).
Bagi mereka kehilangan barang maupun yang penemu, keduanya memiliki kewajiban yang sama untuk mengetahui bagaimana seharusnya islam menangani masalah ini manusia bahwa barang yang sudah milik mereka menganggap bahwa barang tersebut adalah rezeki. Mereka cenderung tidak peduli dengan hal semacam ini bahkan hampir melupakan bagaimana dan seperti apa cara untuk menangani barang-barang temuan.
Mengutip dari UNIDA GONTOR, Hukum pengambilan barang temuan, oleh ulama dibagi ke dalam beberapa tingkatan dan di antaranya sebagai berikut :

Hukum Barang Temuan
- Jika barang temuan ditemukan oleh orang yang memiliki kepercayaan tinggi dan ia mampu menangani benda-benda temuan itu sebagaimana mestinya dan terdapat sangkaan berat bila benda-benda itu tidak diambil akan hilang sia-sia atau diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka ke atasnya berhak mengambil barang temuan tersebut
- Ketika orang tersebut percaya kepada dirinya bahwa ia mampu mengurus benda-benda temuan itu dengan sebagaimana mestinya, tetapi bila tidak diambil barang-barang tersebut tidak akan dikhawatirkan akan hilang sia-sia.
- Jika harta itu, kemudian yang bersangkutan ragu-ragu antara mampu memelihara dengan mengesampingjkan harta yang ditemukan.
- Penetapan hukum terhadap barang temuan oleh kebanyakan ulama fiqh adalah “boleh”. Menetapkan hal tersebut berdasarkan penalaran-dalil yang ada, dan hukum tersebut berlaku bagi orang yang meyakini mampu memelihara dan mengumumkannya, dasar hukum tentang kewajiban bagi penemu untuk mengumumkan barang temuan adalah hadits Nabi SAW:
- “Dari Zaid bin Khalid ra berkata; Seorang datang kepada Rasulullah SAW, menanyakan tentang luqathah, jika Rasulullah SAW bersabda: Kenalilah wadah dan pengikatnya, kemudian umumkan selama satu tahun, maka berkencan dengan pemilik (kembalikan Anda), tidak akan maka sesukamu. Ditanya: Jika menemukan kambing? Rasulullah SAW menjawab: Kambing itu untukmu atau saudaramu atau bagi srigala. Jika mendapatkan unta? Rasulullah SAW bersabda: Apa urusanmu dengan unta? Dia cukup mampu dengan minumnya dan kakinya, dia dapat menemukan minum dan makanannya sehingga bertemu dengan pemiliknya.” (HR Bukhari Muslim)
- Abu Daud juga merawikan hadits tentang larangan Rasulullah SAW mengambil barang temuan pada saat orang-orang sedang mengerjakan ibadah haji, hadits tersebut ada
- Artinya: “Diceritakan Yazid ibn Khalid Mauhab dan Ahmad ibn Shalih diceritakan kepada ibn Wahab dikabarkan 'Umar dari Bakir dari Yahya ibn Abdurrahman ibn Hathib dari Abdurrahman ibn 'Ustman al-Taymi sesungguhnya Rasulullah Saw., melarang mengambil barang yang hilang kepunyaan orang-orang yang sedang mengerjakan ibadah haji, kemudian Ahmad berkata ibnu Wahab yakni meninggalkan barang-barang temuan di waktu haji sampai ada orang yang mengambilnya berkata seperti itulah ibnu Mauhab dari 'Umar”. (HR.Abu Daud)
- Ketika orang yang menemukan suatu benda, kemudian dia mengetahui bahwa dirinya sering terkena penyakit tamak dan yakin betul bahwa dirinya tidak akan mampu memelihara barang tersebut.
Kewajiban dari orang yang menemukan barang temuan tersebut adalah mengumumkan barang yang ditemukan selama satu tahun, apapun jenis barangnya dan di mana pun ditemukannya.
Jika belum memiliki pemiliknya, maka barang-barang tersebut boleh dikelola sebagai barang titipan hingga para pemilik datang untuk mengambil kembali barangnya. Anjuran ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang dinukil dari Zaid bin Khalid Al-Juhanny RA , ia berkata:
النَّبِيَّ لَّى اللَّهُ لَيْهِ لَّمَ لَهُ لٌ اللُّقَطَةِ الَ اعْرِفْ اءَهَا الَ اءَهَا اصَهَا ا اسْتَمْتِعْ ا جَاءَ ا ا لَيْهِ
Artinya: “Rasulullah SAW ditanya mengenai luqathah emas dan perak. Beliau lalu menjawab, “Kenalilah pengikatan dan pengemasannya, kemudian umumkan selama setahun. Jika Anda tidak mengetahui (pemiliknya), gunakanlah dan hendaklah menjadi barang titipan Anda. Jika suatu hari nanti orang yang mencarinya datang, berikan kepadanya,” (HR. Bukhari Muslim).
Antara Luqhotho dengan Rikaz terdapat perbedaan. Rikaz adalah temuan yang tak ada pemiliknya atau sudah punah (harta karun, bonus, dan hadiah non judi dll) dan boleh langsung dijual kemudian wajib zakat 20 persen bilamana rikaz tersebut mencapai nisab 85 gram emas. Imam Al-Mawardiy berkata: Adalah merupakan ijma (kesepakatan ulama ummat) bahwa zakat rikaz tidak mensyaratkan haul. (kitab Kifayatul Akhyar fii Hilli Ghayatil Ikhtishaar).
Di kisahkan bahwa ada seorang laki-laki pernah datang dan bertanya kepada Rasulullah SAW., mengenai Luqhatah . Beliau : “perhatikanlah tepat waktu dan pengikatannya, lalu umumkanlah selama setahun. Jika pemiliknya datang maka serahkan kepada mereka dan jika tidak maka manfaatkanlah . Lelaki itu bertanya lagi, “bagaimana barang temuan tersebut berupa kambing yang tersesat? Beliau menjawab: “Ambilah, itu milikmu, atau milik saudaramu, atau akan di makan serigala . Lelaki itu masih bertanya “bagaimana bila itu berupa unta yang tersesat?” Beliau menjawab “Apa urusannya denganmu?! Ia masih memakai terompah dan memiliki cadangan airnya sendiri sampai nanti pemiliknya datang menemukan .”(HR Al-Bukhari)
Pada tingkat yang pertama, ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali) mengumumkan mengenai barang temuan untuk mengumumkan setidaknya satu tahun dari batas waktu barang itu ditemukan. Namun demikian, yang perlu diperhatikan bahwa barang tersebut harus tahan lama (seperti emas, perak dan barang yang sejenis dengannya). Meskipun demikian, di kalangan ulama masih tampak berbeda pendapat sehubungan dengan barang-barang itu perlu diambil atau dibiarkan saja.
Para ulama fikih berbeda pendapat terkait dengan barang temuan di tanah haram. Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah dalam salah satu riwayatnya dan haram. Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah dalam salah satu riwayatnya dan dari Syafi'i mengatakan,”Bahwa ia seperti barang-barang temuan di tanah halal. dari Syafi'I mengatakan,”Bahwa ia seperti barang temuan di tanah halal. Sementara kutipan Ahmad dan ini termasuk salah satu riwayat dari Syafi'i Sementara kutipan Ahmad dan ini termasuk salah satu riwayat dari Syafi'I mengatakan, “Bahwa barang temuan di haram diumumkan untuk mengatakan, “Bahwa barang temuan di haram diumumkan untuk selamanya sampai datang pemilik. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam sampai datang pemiliknya.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hukum pengambilan barang temuan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi tempat dan kemampuan penemunya Dikarenakan status hukum barang temuan itu dibolehkan untuk diambil, maka dianjurkan untuk memeliharanya dengan baik.
Nishab Zakat Barang Temuan
Nishab Barang Temuan (rikaz) sama dengan nishab emas dan perak, dan kewajiban zakatnya pun tidak dipersyaratkan berulang tahun, tetapi yang wajib dikeluarkan 1/5 atau 20% dari hasil galian.
Cara menghitung zakat mal lebih praktis dan mudah sesuai syariat islam bisa langsung di artikel berikut:
Baca Juga: Cara Menghitung Zakat Mal
Bayar zakat sekarang semakin mudah via online cukup dari rumah. Klik saja zakatkita.org. Atau klik tombol di bawah ini:






Komentar
Posting Komentar